Doktor Ilmu Kedokteran, Diponegoro University

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Artikel Populer Sel Punca, Obat Baru AIDS dan Kanker

Sel Punca, Obat Baru AIDS dan Kanker

E-mail Print PDF

 Prof Sultana MH Faradz MD PhD - Pusat Penelitian Biomedis Fakultas Kedokteran Undip

SEMARANG, undip.ac.id - PENGETAHUAN tentang sel punca atau stem cell telah lama dikenal di dunia biologi sel. Namun baru akhir dekade ini, penggunaan sel punca diketahui dapat digunakan untuk terapi berbagai macam penyakit yang tidak dapat disembuhkan.

Dalam penelitian, sel punca telah terbukti berhasil mengobati penyakit diabetes mellitus, jantung, alzheimer, parkinson, bahkan AIDS dan kanker.

Menurut Prof Sultana MH Faradz MD PhD dari Pusat Penelitian Biomedis Fakultas Kedokteran Undip, pada dasarnya, setiap organ dan jaringan tubuh dibentuk oleh sel-sel tertentu yang berasal dari sel punca. Dalam kehidupan kita, sel punca berperan dalam regenerasi organ dan jaringan yang rusak atau hilang setiap hari.

 

”Sel ini memiliki ciri mampu membelah diri secara terus menerus, spesialisasi pembelahannya belum terarah, dan dengan induksi yang spesifik. Sel punca, dapat membelah diri menjadi sel yang diinginkan seperti sel jantung, sel syaraf, sel otot, dan sebagainya.” jelasnya.


Boleh dibilang, sel punca adalah sumber dari semua sel di dalam individu, tidak terdiferensiasi, dan bisa memperbanyak diri.

Salah satu tipe sel punca adalah sel punca embrionik yang diisolasi dari bagian inner cell mass blastosis, tahap paling awal perkembangan manusia yaitu lima hari setelah pembuahan. Sel punca yang digambarkan sebagai pluripotent, mampu jadi semua jenis sel.

Sementara itu, sel punca dewasa adalah sel tunas yang diisolasi dari jaringan dewasa seperti sumsum tulang atau darah dan bisa memperbanyak diri, tetapi kemampuan diferensiasinya terbatas untuk menjadi jenis sel tertentu.

Karena bisa menjadi beragam sel tubuh, sel punca bisa menyediakan jaringan untuk mengganti sel-sel yang rusak dalam terapi diabetes, jantung, dan penyakit lain.

Namun, sel punca dewasa dianggap kurang optimal hasilnya daripada sel punca embrionik dalam hal tipe jaringan yang bisa dibentuk.

”Akan tetapi, riset sel punca embrionik dihadapkan pada masalah etika karena embrio harus dihancurkan bila hendak diambil sel puncanya. Ini berarti menghilangkan satu kehidupan yang dimulai sejak pembuahan,” katanya.
Masih Eksperimen Mengingat riwayat riset dan pemanfaatan sel punca yang belum terlalu lama, para peneliti Indonesia terus bereksperimen. Penelitian sel punca di Indonesia juga berkembang pesat yang ditandai munculnya sentra-sentra riset baik dasar maupun terapan antara lain di Institut Teknologi Bandung, Universitas Gajah Mada, Universitas Indonesia, Universitas Airlangga, dan Universitas Diponegoro, Rumah Sakit Umum Pusat Cipto Mangunkusumo, RS Hasan Sadikin Bandung, RS Medistra, serta Institut Sel Punca dan Kanker.

Di Indonesia, terapi sel punca baru dilakukan segelintir pasien yang menjalani uji klinis.

Sejumlah dokter bahkan sudah mampu menerapkan pengobatan sel punca untuk sejumlah penyakit dalam jumlah yang relatif kecil. Terapi sel punca di Indonesia sudah diterapkan RS Cipto Mangunkusumo kepada pasien infark jantung.

Selain keamanan metode pengobatan, kesiapan sumber daya manusia (SDM), dana yang didukung Departemen Kesehatan, dan gedung, menurutnya, perlu panduan metode pengobatan dengan sel punca, termasuk peraturan etika yang akan menjadi rambu-rambu dalam pelaksanaan sel punca.

Penawaran secara luas terapi sel punca kepada masyarakat tidak bisa sembarangan karena harus dilihat dulu efek jangka panjangnya, sehingga terapi itu belum dilepas ke pasar.

Dalam uji klinis, terapi tersebut diawasi secara ketat guna melihat efektivitas dan keamanannya. Penelitian penggunaan sel punca sendiri terus digalakkan di Indonesia;

Beberapa kemungkinan yang masih terus diawasi untuk terapi sel punca alogenik (penggunaan sel punca dari donor) ialah penerimaan tubuh terhadap sel punca donor.

Kondisi lain yang diteliti ialah kemungkinan pencemaran virus atau bakteri sehingga harus ada kemampuan menyaring agar tidak ada risiko penyakit lain di kemudian hari.

Penggunaan sel punca pasien sendiri (autologus) juga masih harus diawasi atas kemungkinan timbulnya kanker. (Suara Merdeka CyberNews - Fani Ayudea -13)